makalah rantai makanan biology laut

18 Okt

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang unik dan khas, terdapat di daerah pasang surut di wilayah pesisir, pantai, dan atau pulau-pulau kecil, dan merupakan potensi sumber daya alam yang sangat potensial. Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi, tetapi sangat rentang terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mempertahankan, melestarikan dan pengelolaannya.

Ekosistem mangrove juga merupakan daerah asuhan, berkembang biak, dan mencarimakan berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu keberadaan ekosistem mangrove sangat penting dalam menjaga kelestarian stok perikanan. Ekosistem mangrove juga berperan untuk menjaga stabilitas garis pantai. Mangrove  adalah vegetasi hutan yang tumbuh dipengaruhi oleh pasng surut air laut. Sehingga lantainya selalu tergenang oleh air. Semua organisme hidup akan membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidup. Hubungan yang terjadi individu dengan lingkungan sangat komplek, Substrat yang ada di ekosistem mangrove merupakan tempat yang sangat disukai oleh biota yang hidupnya di dasar perairan atau bentos. Dan kehidupan beberapa biota tersebut erat kaitannya dengan distribusi ekosistem mangrove itu sendiri. Sebagai contoh adalah kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada substrat lunak yang ditemukan di ekosistem mangrove.

Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem.

1.2  Tujuan

 

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :

  • Untuk mengetahuai Rantai Makanan yang ada di  Hutan Mangrove.
  • Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Biologi Laut oleh  Prof.Dr.Ir.Arief Prajitno, MS.

 

 

BAB II

ISI

 

2.1 Definisi Hutan Mangrove

 

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut.(Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000).

Kata mangrove mempunyai dua arti yaitu : pertama  sebagai komunitas, atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000).

Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove.

 

Di Indonesia hutan mangrove tersebar di sepanjang pantai Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Jenis yang sering ditemukan di Indonesia dan merupakan ciri-ciri utama dari hutan mangrove adalah genera Avicenna, Cerops, Brugueirea dan beberapa spesies dari genera Rhizophora (Sumardjani,1997, Nybakken, 1993).

 

 

2.2 Fungsi Hutan Mangrove

Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan (Gunarto, 2000).

Menurut Eni Kamal (1998) hutan mangrove suatu ekosistem yang unik dan mempunyai 3 (tiga) fungsi pokok yakni :

1. Fungsi   wilayah penyangga terhadap rembesan air laut (intrusi) dan sebagai filter pencemaran yang masuk ke laut.

2. Fungsi biologis, sebagai daerah asuhan dan tempat pemijahan (nursery ground dan spawning ground) bagi ikan, udang, kepiting, kerang dan biota perairan lainnya (nursery ground), tempat persinggahan burung-burungyang bermigrasi serta tempat  habitat alami berbagai jenis biota flora (anggrek) dan fauna lainnya.

3. Fungsi ekonomis, sebagai sumber bahan bakar (arang dan kayu bakar), bahan bangunan (balok, atap rumah dan tikar), perikanan, pertanian, tekstil (serat sintetis), makanan, obat-obatan, minuman (alkohol), bahan mentah kertas, bahan pembuat kapal (gadinggading) dan lainnya. Kerusakan dan terganggunya ekosistem mangrove disepanjang pesisir Sumatera Barat akan menyebabkan terjadinya penurunan hasil tangkapan ikan dan biota lainnya dan sudah mulai dirasakan bahkan pada tingkat perairan pantai sudah over fishing, hal ini salah satunya disebabkan oleh rusaknya hutan mangrove.

Sebagaiman telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998) :

1. Fungsi ekologis :

ü  pelindung garis pantai dari abrasi,

ü  mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan,

ü  mencegah intrusi air laut ke daratan,

ü  tempat berpijah aneka biota laut,

ü  tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan

ü  serangga,

ü  sebagai pengatur iklim mikro.

2. Fungsi ekonomis :

ü  penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan

ü  makanan, obat-obatan),

ü  penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit,

ü  pewarna),

ü  penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung,

ü  pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

 

2.3 Ekosistem Mangrove

 

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).

Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999).

Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999).

Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah.

Sumbangan terpenting hutan mangrove terhadap ekosistem perairan pantai adalah lewat luruhan daunnya yang gugur berjatuhan ke dalam air. Luruhan daun mangrove ini merupakan sumber bahan organic yang penting dalam rantai makanan (food chain) di lingkungan perairan yang bisa mencapai 7 sampai 8 ton/ ha/th. Kesuburan perairan sekitar kawasan mangrove kuncinya terletak pada masukan bahan organik yang berasal dari guguran daun ini (Nontji, 1993).

 

2.4 Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan

 

Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan.

Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk :

1. Adaptasi terhadap kadar kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas :

(1) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora(misalnya : Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.) untuk mengambil oksigen dari udara; dan

(2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).

2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :

ü  Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam.

ü  Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam.

ü  Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.

3. Adaptasi terhadap tanah yang kurang strabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

 

2.5 Rantai Makanan di Ekosistem Hutan Mangrove

Tumbuhan mangrove sebagaimana tumbuhan lainnya mengkonversi cahaya matahari dan zat hara(nutrient) menjadi jaringan tumbuhan melalui proses fotosintesis. Tumbuhan mangrove merupakansumber makanan potensial bagi semua biota yang hidup di ekosistem hutan mangrove. Komponen dasardari rantai makanan di ekosistem mangrove adalah serasah dari tumbuhan mangrove itu sendiri (daun,ranting, buah, batang dll). Sebagian serasah mangrove di dekomposisi oleh bakteri dan fungi menjadi zathara (nutrient) terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton, algae ataupun tumbuhanmangrove itu sendiri dalam proses fotosintesis.Sebagian lagi sebagai partikel serasah (detritus) dimanfaatkan oleh ikan, udang dan kepitingsebagai makanannya (Bengen, 2000).

Rantai makanan merupakan proses pemindahan energi makanan dari sumberdaya melalui serangkaian jasad-jasad dengan cara makan – dimakan  yang berulang kali (Romimoharto dan Juwana ,1999).

Menurut Rahmimoharto (1999) terdapat tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa,rantai parasit dan rantai saprofit.

  1. Rantai Pemangsa

Adalah tumbuhan hijau sebagai produsen .rantai pemangsa di mulai dari hewan yang bersifat herbivore sebagai konsumen 1,dilanjutkan dengan hewan carnivore yang memangsa herbiovora sebagai konsumen ke 2 dan berakhir pada hewan pemangsa carnivore maupun herbivore sebagai konsumen ke 3.

  1. Rantai Parasit

Rantai parasit di mulai dari organism besar sehingga organism yang hidup sebagai  parasit,contoh cacing,bakteri,benalu.

3.Rantai Saprofit

Di mulai dari organism mati ke jasat pengurai .misalnya jamur dan bakteri.rantai tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan satu dengan ya ng lain sehinga membentuk faring-faring makanan .

Sedangkan secara umum di perairan terdapat 2 tipe rantai makan :

  1. Rantai Makanan Langsung

Rantai makanan langsung adalah peristiwa makan-menmakan mulai dari tingkat profit terendah yaitu fitoplankton sampai ke tingkat profit tinggi yaitu ikan carnivore

Kimbal (1987) mengklasifikasikan ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove pada 4 (empat)tope ikan,yaitu:

ü  Ikan penetap sejati,yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya  dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan gelodok(periophthalamus sp).

ü  Penetap Sementara ,yaitu ikan berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan ,tetapi pada saat dewasa  cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove.

 

 

  1. Rantai Makanan Tidak Langsung

Rantai detritus ini melibatkan lebih banyak organisme. Bertindak sebagai produsen adalah mangrove yang akan menghasilkan serasah yang berbentuk daun, ranting, dan bunga yang jatuh ke perairan.

 

2.6 Hubungan Ekosistem Mangrove dengan Ekosistem Lainnya

 

Ekosistem utama di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Menurut Kaswadji (2001), tidak selalu ketiga ekosistem tersebut dijumpai, namun demikian apabila ketiganya dijumpai maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Masing-masing ekosistem mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut.

Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengg anggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang. Di samping hal-hal tersebut di atas, ketiga ekosistem tersebut juga menjadi tempat migrasi atau sekedar berkelana organisme-organisme perairan, dari hutan mangrove ke padang lamun kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya (Kaswadji, 2001).

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Hutan Mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim.

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotic dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.

Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara biologis.

Manfaat ekonomis diantaranya terdiri atas hasil berupa kayu (kayu bakar, arang, kayu konstruksi, dll.) dan hasil bukan kayu (hasil hutan ikutan dan pariwisata).

Manfaat ekologis, yang terdiri atas berbagai fungsi lindungan baik bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan maupun habitat berbagai jenis fauna

Tipe rantai makanan ada dua , yaitu ; rantai makanan lansung dan tidak langsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bengen, D.G., (1999), Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosiistem Mangrove. PKSPL. IPB. Bogor.

Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

Gunarto dan A. Hanafi. 2000. Pengembangan budi daya ikan dan kepiting bakau dalam kawasan mangrove. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 19(1): 33−38.Sulawesi Selatan

Idawaty. 1999. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Lansekap Hutan Mangrove Di Muara Sungai Cisadane, Kecamatan Teluk Naga, Jawa Barat. Tesis Magister. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

IUCN – The Word Conservation Union. 1993. Oil and Gas Exploration and Production in Mangrove Areas. IUCN. Gland, Switzerland.

Kamal. E., J. S. Bujang, M. Rahman dan S. Othman, 1998. Kondisi dan Kebijakan Hutan Mangrove di Sumatera Barat. Majalah Ilmiah Wawasan IPTEKNI Tahun V No. 2. Hal. 73 – 83.

Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.

Khazali, M. 1999. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetland International – Indonesia Programme. Bogor, Indonesia.

Kimball, J.W. 1987. Biologi. Jilid.1. Erlangga. Jakarta

Mulyadi, Indiarto, Y. Dan Yusuf, R., (1986), Ekosistem Hutan Mangrove, Puslitbang-LIPI, Bogor.

Nontji.A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta, 368 hal.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa oleh M. Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

Nybaken,J.W. 1993. Biologi laut suatu pendekatan ekologis. Diterjemahkan oleh Eidman, Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo dan S Sukarjo. Gramedia. Jakarta. 459 hal.

Romimohtarto, K dan S. Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan TentangBiota Laut. Puslitbang Osenologi-LIPI, Jakarta : 527 hal

Santoso, N., H.W. Arifin. 1998. Rehabilitas Hutan Mangrove Pada Jalur Hijau Di Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP Mangrove). Jakarta, Indonesia.

Santoso, N. 2000. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasan Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: