MAKALAH EKNOGRAFI BUDAYA

4 Apr

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar belakang

            Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).

            Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, etnografi merupakan embrio dari antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi juga merupakan hasil catatan penjelajah eropa tatkala mencari rempah-rempah ke Indonesia. Koentjaraningrat, 1989:1 : “Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adapt istiastiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut”.

            Etnografi yang akarnya antropologi pada dasarnya merupakan kegiatan peneliti untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Etnogarafi adalah pelukisan yang sistematis dan analisis suatu kebudayaan kelompok, masyarakat atau suku bangsa yang dihimpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Penulisan Etnografi

 

            Salah satu cara terbaik untuk menulis sebuah etnografi adalah dengan membaca etnografi lain. Jika Anda membaca etnografi yang ditulis dengan baik selama proses penulisan, tulisan Anda akan membaik tanpa upaya yang Anda sadari.  Etnografer, sebagaimana penerjemah, mempunyai tugas ganda. Di satu pihak, Anda harus masuk ke dalam suasana budaya yang ingin Anda ketahui. Anda harus memasuki bahasa dan pemikiran informan Anda.

             Tugas kedua dari penerjemahan etnogarfis adalah dengan menyampaikan makna budaya yang telah Anda ketemukan kepada para pembaca yang tidak mengenai budaya atau suasana budaya itu. Etnografer harus mengembangkan keahlian menyampaikan dalam bentuk tulisan.

 

 

 

                                                               

*) Bungin, Burhan.2008. Penelitian Kualitatif, Kencana, Jakarta. Endaswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : UGM Press.

**)Jensen, Klaus Bruhn and Nicholas W. Jankowski. 1991. A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research. Washington: Wadworth Publishing Company.

***) Marzali, Amri.2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia, Kencana, Jakarta.

 

            Beberapa Tahapan dalam Penulisan Etnografi, Dalam antropologi, sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial lainnya, perhatian terhadap hal hal khusus ada hubungannya dengan suatu pemahaman terhadap etnografer sesuatu yang umum.

 

Tetapi, ketika prinsip ini dimasukkan seluruhnya ke dalam pelaksanaan etnografi, maka akan menciptakan parodi proses penerjemahan. Dalam penulisan sebuah etnografi sebagai sebuah penerjemahan, perhatian terhadap hal yang umum ada hubungannya dengan pemahaman mengenai hal yang khusus.

 

             Paling tidak, terdapat enam tahapan yang berbeda yang dapat diidentifikasikan dalam penulisan etnografis ketika kita bergerak dari hal umum ke hal khusus. Berikut masing-masing jenis-jenis statemen penerjemahan yang berbeda ini.

 

  • Tahap 1: Statemen-statemen Universal. Statemen-statemen ini meliputi semua statemen mengenai umat manusia, tingkah laku mereka, kebudayaan mereka atau situasi lingkungan mereka. Statemen ini adalah statemen yang mencakup semua.

 

  • Tahap 2: Statemen-statemen Deskriptif Lintas Budaya. Statemen dalam tahap abstraksi ini meliputi berbagai penegasan yang luas menurut beberapa masyarakat, tetapi tidak harus untuk semua masyarakat. Statemen ini mengatakan tentang sesuatu yang berkaitan dengan dua masyarakat manusia yang sangat besar. Statemen deskriptif semacam itu membantu untuk menyampaikan suatu pengertian tentang tempat yang sangat spesifik.

 

  • Tahap 3: Statemen Umum mengenai Suatu Masyarakat atau Kelompok Budaya.
  • Jenis statemen ini tampak spesifik, tetapi sebenarnya masih sangat umum. “Suku Kwakiult tinggal di desa-desa di sepanjang pantai” merupakan sebuah statemen umum mengenai suatu kelompok budaya.

 

  • Tahap 4: Statemen Umum mengenai Suatu Suasana Budaya yang Spesifik. Tahapan penulisa etnografi ini berisi banyak tema yang ingin disajikan oleh etnografer itu kepada pembaca.

 

  • Tahap 5: Statemen Spesifik mengenai sebuah Domain Budaya. Pada tahap ini, etnografer mulai menggunakan berbagai istilah asli informan dan berbagai kontras spesifik yang didapat informan.

 

  • Tahap 6: Statemen Insiden Spesifik. Dalam satu pengertian tahapan satu sampai lima semuanya berbeda secara tajam dengan tahap enam. Tahap enam ini mengantarkan pembaca pada tahap aktual tingkah laku dan objek, tahap pemahaman berbagai hal itu.

 

B. Langkah-Langkah Dalam Menulis Sebuah Etnografi

  • Langkah 1: Memilih khayalak. Karena khayalak akan mempengaruhi setiap aspek dalam etnografi Anda, maka memilih khalayak merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Semua penulisan merupakan suatu tindakan komunikasi antara manusia dan dalam pengertian seperti itu menulis hampir sama dengan berbicara. Ketika berbicara dengan seseorang, banyak sekali petunjuk yang mengingatkan kita bahwa khalayak kita ada.

 

  • Langkah 2: Memilih tesis. Dalam upaya untuk berkomunikasi dengan khalayak Anda perlu mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Seringkali, deskripsi etnografi seperti percakapan yang berbelit-belit, tanpa tujuan.

 

  • Langkah 3: Membuat sebuah daftar topik dan membuat sebuah garis besar. Langkah ini melibatkan peninjauan kembali catatan-catatan lapangan Anda serta inventaris budaya yang telah Anda buat, dan juga daftar topik yang Anda anggap harus dimasukkan ke dalam deskripsi akhir Anda.

 

  • Langkah 4: Menulis naskah kasar untuk masing-masing bagian. Sebuah naskah kasar dimaksudkan untuk sebuah naskah yang masih kasar, belum selesai dan belum dipoles.

 

  • Langkah 5: Merevisi garis besar dan membuat anak judul. Hampir dapat dipastikan bahwa garis besar yang dibuat berubah dalam proses penulisan. Jika sebuah naskah kasar telah selesai dibuat untuk masing-masing bagian, baik sekali untuk membuat sebuah garis besar baru.

 

  • Langkah 6: Mengedit naskah kasar. Pada tahapan penulisan ini, Anda mempunyai sebuah naskah kasar, sebuah garis besar yang sangat jelas, sejumlah sub judul yang akan Anda gunakan dalam tulisan Anda. Sekarang saatnya Anda mengembangkan itu semua untuk memperbaiki detail tulisan Anda.

 

  • Langkah 7: Menuliskan pengantar dan kesimpulan. Sekarang, deksripsi itu telah mempunyai bentuk yang kuat dan Anda dapat menulis kedua bagian ini dengan cara yang lebih efektif.

 

 

 

C. Kerangka Etnografi

 

Etnografi dikarang guna dapat mendeskripsikan mengenai gambaran kebudayaan suatu suku bangsa. Etnografi diawali dari jurnal perjalanan orang-orang daratan Eropa yang ingin menyelidiki keadaan bangsa-bangsa di luar Eropa. Etnografi tidak mencakup keseluruhan dari suku bangsa, tapi etnografi mencakup suatu bagian tertentu dari suatu suku bangsa, kecuali bagi suku bangsa yang kecil jumlah populasi.

Seorang ahli antropologi Amerika, R. Naroll, menyusun suatu daftar prinsip yang digunakan para antropolog untuk menentukan batas-batas dari masyarakat, daftar itu antara lain berisi:

  1. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih;
  2. Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu bahasa atau satu logat bahasa;
  3. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah politikal administratif;
  4. Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri;
  5. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografis yang merupkan kesatuan daerah fisik;
  6. Kesatuan masyarkat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi;
  7. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mengalami satu pengalaman sejarah yang sama;
  8. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksinya satu dengan lain merata tinggi;
  9. Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam.

Seorang Antropolog yang mencari suatu kesatuan etnografi untuk menjadi pokok penelitian dan pokok deskripsi etnografinya sudah tentu juga menghadapi kompleksitas yang berbeda-beda mengenai unsur-unsur kebudayaan yang dihadapinya. Berikut adalah penjabaran dalam kerangka etnografi.

  • Lokasi, Lingkungan Alam & Demografi

Mendeskripsikan etnografi perlu menjelaskan ciri geografi seperti iklim, sifat daerah, suhu dan curah hujan. Etnografi juga memberikan ciri geologi dan geomorfologi dan penyebaran suku bangsanya.

  • Sejarah Suku Bangsa

Asal mula suatu suku bangsa yang menjadi pokok deskripsi. Ilmu sejarah sangat berguna dalam mencari asal mula suatu suku bangsa. Data itu diperoleh dengan benda-benda kebudayaan prehistori yang ditemukan para ahli prasejarah, baik itu benda yang berwujud ataupun yang tidak berwujud sama sekali.

  • Bahasa

Sistem perlambangan manusia dalam berkomunikasi baik secara lisan ataupun dengan simbol. Perlu observasi dalam mencari batas penyebaran suatu bahasa. Lalu dimana letak perbedaannya, letak perbedaan dialeknya, perbedaan bahasa yang dipakai di antara golongan sosial.

  • Sistem Teknologi

Memproduksi, menggunakan, memelihara peralatan hidup dari suatu suku bangsa. Sistem teknologi ini hanya dibatasi oleh teknologi yang asli, atau yang belum terkena pengaruh teknologi dari bangsa lain. Senjata, alat-alat rumah tangga, pakaian perumahan, alat transportasi, dan sebagainya, ditelaah mengenai proses pembuatan, penggunaan dan pemeliharaannya.

 

  • Sistem Mata Pencaharian

Dominan dari populasi suatu suku bangsa yang mencari penghidupan dengan cara seperti apa. Apakah itu berburu, berternak, bertani di ladang, menangkap ikan,atau bertani dan menetap dengan irigasi.

  • Organisasi Sosial

Sistem komunitas yang dianut suatu suku bangsa, yang di dalamnya juga terkandung sistem kekerabatan, kekeluargaan, dan lapisan sosial. Bagaimana suatu komunitas dalam suatu bangsa itu beraktivitas bersama-sama, baik itu secara gotong royong, kekerabatan antar suatu komunitas, dan hubungan keluarga baik dari sistem saudara atau pernikahan.

  • Sistem Pengetahuan

Bagaimana suatu bangsa itu memperoleh pengetahuan, baik itu berupa teknologi, alat-alat produksi, atau pengobatan dan sebagainya. Sistem kepercayaan zaman dulu yang dipercaya seperti hal-hal aneh yang tidak dapat diterima akal sehat. Pengetauan mengenai alam, manusia, tingkah laku dari masa ke masa.

  • Sistem Religi

Religi mengundang perhatian banyak ahli antropologi dikarenakan keunikan dalam hal:

  1. Upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku biasanya merupakan unsur kebudayaan yang tampak paling lahir;
  2. Bahan etnografi mengenai upacara keagamaan diperlukan untuk menyusun teori tentang asal mula religi.
  3. Religi memiliki nilai keramat terutama terlihat pada benda, tindakan dan gagasan tertentu. Sistem religi antara lain meliputi keyakinan, upacara keagamaan, umat yang menganut sistem religi tersebut.

 

  • Kesenian

Ekspresi yang dituangkan manusia berdasarkan pemikiran dan intusisinya. Semua itu dilakukan karena menginginkan sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka, sesuatu yang dapat memberikan keindahan bagi mereka. Kesenian meliputi seni rupa, seni suaru, seni tari, seni drama, dsb.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan                                                                                                          
            Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi, lahir pada tahap pertama dari perkembangannya sebelum tahun 1800 an. Etnogarafi merupakan hasil catatan penjelajah eropa Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi entang adat istitiadat,susunan masyarakat,bahasa dan cirri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut. Jadi layaknya seperti penelitian yang lain, variabel dari penelitian ini lebih kepada kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat.

            Penelitian etnografi juga merupakan kegiatan pengumpulan bahan kete¬rangan atau data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian.

Daftar Pustaka

 

Bungin, Burhan.2008. Penelitian Kualitatif, Kencana, Jakarta. Endaswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : UGM Press.

 

Jensen, Klaus Bruhn and Nicholas W. Jankowski. 1991. A Hand Book of Methodologies For Mass Communication research. Washington: Wadworth Publishing Company.

 

Marzali, Amri.2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia, Kencana, Jakarta.

 

Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT remaja Rosdakarya Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT tiara Wacana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: